Kota Solo tak hanya menyuguhkan keindahan budaya saja yang menjadi daya pikat pariwisata. Di sejumlah tempat di Kota Solo, terdapat beragam kampung tematik yang bisa memanjakan untuk sekadar merefresh pikiran melalui konsep wisata yang berbeda. Kampung tematik yang tersebar di sejumlah wilayah itu bisa menjadi alternatif untuk wisata edukatif.
Dari sejumlah kampung tematik ini para pengunjung akan disuguhi pengalaman belajar langsung lewat aktivitas keseharian masyarakatnya. Aktivitas yang bersifat edulatif itu mulai dari pertanian perkotaan, seni mural, kerajinan tradisional, hingga kebudayaan Jawa. Wisata seperti ini cocok dikunjungi bersama keluarga maupun pelajar karena pengunjung dapat melihat sekaligus mempelajari aktivitas dan budaya yang berkembang di tengah masyarakat.
Jadi, jika Anda berkunjung ke Kota Solo, jangan hanya menikmati keindahan tata kota serta karakteristik budayanya. Di sela-sela berbelanja, coba mampirlah ke destinasi sejumlah kampung tematik untuk merasakan sensasi lain wisata edukatif yang tersaji. Berikut sejumlah kampung tematik yang tersebar di Kota Solo yang bisa dieksplorasi.
1. Kampung Wisata Mojosongo
Kampung Sayur Mojosongo berada di Kampung Ngemplak Sutan RW 07, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Surakarta. Kampung ini cocok bagi pengunjung yang ingin mempelajari konsep pertanian perkotaan atau urban farming.
Awalnya, warga menanam sayuran organik di pekarangan rumah untuk memenuhi kebutuhan gizi harian keluarga sekaligus mengurangi pengeluaran rumah tangga. Hasil tanaman tersebut pada awalnya bukan untuk dijual, melainkan dikonsumsi sendiri. Aktivitas warga makin beagam seiring berjalannya waktu.
Selain sayuran organik, pengunjung dapat menjumpai pengelolaan sampah, budidaya jamur, peternakan ayam petelur, hingga perikanan yang dilakukan di lingkungan rumah warga. Kampung Sayur Mojosongo lalu berkembang menjadi salah satu destinasi wisata edukasi yang memperkenalkan konsep pertanian bagi para wisatawan.
2. Kampung Hepi Joho
Kampung Hepi Joho di Kelurahan Manahan, Kecamatan Banjarsari bisa menjadi pilihan tepat bagi anda yang meresapi nilai seni. Kampung ini juga dikenal sebagai Kampung Mural Joho. Pengunjung akan menemukan mural dan relief dengan berbagai tema yang menghiasi dinding rumah warga. Tentunya sangat cocok.pula untuk untuk sekadar berswafoto fengan latar belakang mural-mural yang artistik untuk diunggah di platform media sosial.
Selain menjadi sarana hiburan, Kampung Hepi Joho.memberikan kesempatan pada anak-anak untuk berkreasi seni lewat mural tanpa terus bergantung pada gawai. Selain aspek seni Kampung Hepi Joho pun menawarkan wisata kuliner tradisional hingga makanan kekinian yang dapat dinikmati setelah berkeliling kampung.
3. Kampung Blangkon Patrojayan
Solo juga memiliki kampung yang menjadi sentra kerajinan blangkon, yakni Kampung Blangkon Potrojayan di Kecamatan Serengan. Blangkon merupakan salah satu aksesori penutup kepala yang menjadi bagian dari pakaian adat Jawa.
Mayoritas warga di Kampung Blangkon Potrojayan merupakan perajin blangkon yang telah menjalankan usaha tersebut secara turun-temurun sejak 1970-an. Menariknya, blangkon yang diproduksi tidak hanya berasal dari gaya Solo. Para perajin juga membuat berbagai variasi blangkon dari daerah lain, seperti Yogyakarta, Surabaya, dan Ponorogo. Pemasarannya pun telah menjangkau berbagai daerah di Pulau Jawa, terutama Jawa Tengah dan Yogyakarta.Pengunjung dapat belajar mengenai proses pembuatan blangkon secara langsung.
Pemerintah daerah juga pernah membuka program pelatihan pembuatan blangkon sehingga kerajinan tradisional tersebut dapat dipelajari oleh masyarakat luas. Wisatawan yang datang dapat melihat proses pembuatan sekaligus mengenal cerita di balik bentuk dan motif blangkon.
4. Kampung Njawani
Kampung Njawani berada di Kampung Gebang, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta. Tempat ini merupakan kampung tematik berbasis budaya. Kampung ini cocok bagi wisatawan yang ingin mengenal budaya Jawa secara lebih dekat.
Berbagai kegiatan di dalamnya menjadi ruang belajar mengenai bahasa, busana, kesenian, hingga kuliner Jawa. Berbagai kegiatan edukasi budaya Jawa tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk belajar dan melestarikan tradisi.
Pengembangan Kampung Njawani melibatkan warga, budayawan, serta akademisi yang berperan sebagai mentor. Sejumlah kegiatan pembelajaran berlangsung di Sanggar Wong Alasan dan pendapa milik dalang Ki Purbo Asmoro.
Salah satu kegiatan yang menarik adalah pentas seni budaya Jawa setiap malam Sabtu Pon. Selain itu, setiap bulan purnama digelar Rembulan Art Festival di panggung terbuka Kampung Gebang.
Warga sekitar juga rutin mengikuti latihan karawitan.
5. Kampung Wisata Baluwarti
Kampung Wisata Baluwarti berada di kawasan Keraton Kasunanan Surakarta dan dikelilingi tembok tinggi keraton. Seiring waktu, kawasan tersebut juga dihuni masyarakat umum.
Baluwarti memiliki karakter yang berbeda dibandingkan kampung modern. Sejumlah aturan berkaitan dengan lingkungan keraton masih diterapkan, termasuk ketentuan bangunan rumah warga yang tidak boleh lebih tinggi dari Keraton Surakarta Hadiningrat. Kori atau pintu gerbang kampung juga ditutup pada pukul 23.00 hingga 05.30 WIB.
Selain melihat suasana kampung di lingkungan keraton, wisatawan dapat mengikuti berbagai aktivitas edukatif. Di antaranya kelas memasak kuliner Jawa, belajar mengenakan busana tradisional Jawa, hingga mewiru kain batik.
Pengunjung juga dapat mengunjungi sejumlah bangunan bersejarah seperti Ndalem Praja Pangarsan, Ndalem Waringen, dan Ndalem Broto. Berbagai workshop juga tersedia, mulai dari pembuatan lulur badan, jamu tradisional, topeng, hingga suvenir.
