Pasar Jongke Riwayatmu Kini

 


Bangunan megah berwarna putih dengan pilar-pilar besar penopang kanopi beton dan fasad dengan arsitektur khas Jawa Modern. Inilah gambaran Pasar Jongke yang akan mengingatkan kita pada tampilan depan Stasiun Kota atau Stasiun Beos. Bangunan bergaya Art Deco khas kolonial ini terlihat mencolok di antara bangunan lainnya.

Pasar Jongke adalah salah satu pasar tradisional yang cukup terkenal di Kota Solo. Terletak di wilayah Jongke, bagian barat Kota Surakarta, pasar ini menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat setempat. Tidak hanya itu, tempat ini pun merupakan destinasi menarik bagi wisatawan yang ingin merasakan nuansa lokal khas Solo.

Pasar Jongke bukan hanya tempat jual beli kebutuhan sehari-hari, tapi juga pusat kuliner tradisional, kerajinan tangan, dan interaksi budaya. Berbeda dari pasar modern, Pasar Jongke mempertahankan suasana khas pasar rakyat yang sederhana, serta kaya nilai budaya dan kearifan lokal.

Apalagi, Pasar Jongke sudah beroperasi sejak tahun 1992. Awalnya, bangunan ini masih sederhana dan hanya satu lantai. Selain itu, bangunan Pasar Jongke terbagi menjadi dua, yaitu bagian barat dan timur. Di sisi barat berisi penjual yang menjajakan kebutuhan sehari-hari, seperti sembako, daging, pakaian, dan jajanan. Sedangkan bagian timur menjadi pusat jual beli sepeda bekas dan bermerek.

Seiring waktu, Pasar Jongke direvitalisasi dan dibuat lebih besar. Peresmian Pasar Jongke yang sudah direvitalisasi dilakukan oleh Presiden Joko Widodo pada hari Sabtu, 27 Juli 2024. Lokasinya cukup strategis karena berada tidak jauh dari kawasan Kampung Batik Laweyan serta akses menuju sejumlah daerah seperti Yogyakarta dan Semarang.

Seiring berjalannya waktu, Pasar Jongke mengalami perubahan besar. Pasar yang awalnya hanya berupa bangunan sederhana satu lantai tersebut kini berubah menjadi kompleks pasar tiga lantai setelah menjalani proyek revitalisasi.

Dikutip dari laman DPMPTSP Kota Solo, Pasar Jongke saat itu merupakan pasar dengan kategori 1B.
Bangunan Pasar Jongke awalnya terbagi menjadi dua bagian, yakni bagian barat dan bagian timur.
Bagian barat menjadi lokasi pedagang yang menjual berbagai kebutuhan sehari-hari. Mulai dari sembako, daging, pakaian hingga jajanan dapat ditemukan di bagian tersebut.

Perubahan besar terjadi ketika Pemerintah melakukan revitalisasi Pasar Jongke. Bangunan baru Pasar Jongke dibuat jauh lebih besar dibandingkan bangunan sebelumnya. Salah satu alasannya karena bangunan baru tersebut juga digunakan untuk menampung pedagang dari Pasar Kabangan.

Selama proses pembangunan berlangsung, pedagang Pasar Jongke untuk sementara dialihkan  ke pasar darurat yang berada di Lapangan Jegon, Laweyan. Pasar darurat tersebut menyediakan kios berukuran 3 x 3 meter dan los berukuran 1,5 x 2 meter. Revitalisasi dilakukan dengan tujuan menata kembali kawasan pasar sekaligus meningkatkan kenyamanan pedagang dan pembeli.

Setelah proyek revitalisasi selesai Pasar Jongke tampil dengan gaya arsitektur kolonial yang cukup kental.
Desain tersebut dibuat untuk menyesuaikan dengan karakter kawasan Laweyan yang dikenal sebagai kawasan bersejarah dan sentra Kampung Batik Laweyan.

Konsep bangunan tersebut diharapkan dapat menyatu dengan kawasan sekitar yang memiliki nilai sejarah dan budaya. Dengan bangunan tiga lantai serta berbagai fasilitas baru, Pasar Jongke kemudian tampil layaknya pusat perdagangan modern.

Namun, perubahan wajah Pasar Jongke tersebut juga diikuti sejumlah persoalan baru. Sejumlah pedagang mengeluhkan kondisi pasar yang dinilai lebih sepi dibandingkan sebelum revitalisas. Meegahnya bangunan baru ternyata tidak serta-merta membuat seluruh pedagang merasakan peningkatan omzet sehingga mereka memilih menutup kios.

Salah satu pedagang Pasar Jongke, Edi Santoso, mengatakan jumlah pengunjung terus menurun. Kondisi tersebut membuat pedagang kesulitan menutup biaya operasional, termasuk membayar retribusi.
Menurut Edi, salah satu faktor yang membuat aktivitas jual beli di Pasar Jongke sepi adalah sistem zonasi yang diterapkan di dalam pasar.

Edi menilai pembagian area berdasarkan zona membuat pembeli harus berpindah cukup jauh ketika ingin mencari barang yang berbeda. Kondisi tersebut, menurut dia, berdampak terhadap aktivitas jual beli karena tidak semua pengunjung bersedia berkeliling ke zona lain.

Itu berdampak ke pembeli. Sehingga kalau harus dizonasi merepotkan pembeli. Toko-toko pun juga kesulitan untuk melayani," ujar Edi sebagaimana dikutip dari Kompas. Menurut Edi, kondisi tersebut turut berpengaruh terhadap aktivitas pedagang di dalam pasar.

About gandrungsolo

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.