Hotel Kelas Bawah di Solo Kini Lebih Laris dari Hotel Mewah

 


SURAKARTA - Tingkat hunian atau okupansi antara hotel mewah dengan hotel kelas bawah di Kota Solo mengalami perbedaan cukup signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Jika hotel.mewah mengalami penurunan jumlah kunjungan tamu, hotel kelas bawah justru laris manis di masa low season ini.
Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Solo mecatat tingkat penurunan okupansi hotel berbintang di Kota Bengawan mrncapai angka hampir 50%. Hal itu disebabkan pada Juli 2026 tidak ada libur panjang atau sedang dalam kondisi low season.

Humas BPC PHRI Kota Solo, Wening Damayanti, membenarkan adanya tekanan pasar akibat sepinya aktivitas Meeting, Incentive, Convention, Exhibition (MICE), rapat pemerintahan, hingga agenda korporasi yang selama ini menjadi penopang okupansi.
Namun, ia menegaskan dampak tersebut tidak dialami secara merata oleh seluruh klasifikasi hotel.

"Dalam catatan kami, justru ada hotel-hotel kelas menengah ke bawah yang tidak terpengaruh dengan low season. Mereka tetap survive dan okupansinya stabil. Contohnya, hotel bintang 1 dan 2 yang letaknya berdekatan dengan titik sport tourism. Saat ini sedang marak acara lari dan sepeda, hotel-hotel ini justru penuh," kata Wening saat sebagaimana dilansir dari Solopos.com.

Dia menjelaskan hotel kelas bawah dihidupi oleh segmentasi pasar yang lebih segmented. Misalnya dari wisatawan olahraga (sport tourism) sering kali hanya membutuhkan tempat beristirahat sejenak sebelum atau sesudah bertanding, sehingga mereka cenderung memilih hotel bintang 1 dan 2 ketimbang hotel mewah.

Kondisi sebaliknya justru mencekik hotel berbintang 3 ke atas. Menurut Wening hotel berbintang merasakan hantaman yang jauh lebih berat karena tingginya biaya operasional (cost) tidak sebanding dengan pendapatan (revenue) yang turun akibat minimnya kegiatan MICE.

Kendati demikian, Wening memperingatkan agar para pengelola hotel agar tidak merusak pasar dengan melakukan banting harga.PHRI Solo mendesak anggotanya untuk menghindari jebakan perang harga (price war) hanya demi mengerek angka okupansi.

"Ini yang repot, kalau semua hotel hanya menurunkan harga untuk mendapatkan okupansi, akhirnya yang terjadi adalah perang harga. Okupansi mungkin naik, tetapi profitabilitasnya pasti akan turun. Itu tidak menguntungkan untuk hotel dan ekosistem di Kota Solo," tegasnya.

Wening blak-blakan menyebut persaingan harga hotel di Kota Bengawan saat ini sudah sangat ketat.
Dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya, ia mengatakan tarif menginap di Solo terbilang sangat murah. Persaingan  yang terlalu ketat membuat loyalitas tamu sangat rentan terhadap godaan diskon kecil.

"Di Solo ini harga hotel sangat murah. Kompetisinya sangat ketat, rasa-rasanya selisih harga Rp5.000 saja itu tamu sudah bisa pindah hotel. Berkompetisinya adalah menurunkan harga, padahal seharusnya tidak begitu," katanya.

Sebagai solusi menghadapi low season, pihaknya mendorong para pelaku industri perhotelan untuk lebih kreatif meracik nilai tambah ketimbang sekadar memangkas tarif kamar.

Wening merekomendasikan untuk menciptakan value package atau paket penawaran khusus. Pengelola hotel didorong merancang paket bundling yang mengintegrasikan layanan kamar dengan fasilitas kuliner, paket tur wisata budaya, hingga akomodasi transportasi lokal.

About gandrungsolo

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.