Festival Payung Kota Solo Dimeriahkan Pertunjukan Seni Lintas Negara

 


SURAKARTA - Masyarakat Kota Solo dapat menikmati ratusan pertunjukan seni lintas disiplin dan dari berbagai negara, Jumat - Minggu (4-6 September) ini. Pertunjukan seni tersebut diharapkan dapat semakin memeriahkan Festival Payung Indonesia (Fespin)  ke-13 yang dihelat di Taman Balekambang selama tiga hari berturut.

Direktur Festival Payung Indonesia, Heru Mataya, mengatakan dari Jumat hingga Minggu, akan ada 163 pertunjukan tari, musik, fashion, dan teater yang tampil secara maraton mulai pukul 09.00 WIB pagi hingga 23.00 WIB malam. Pertunjukan ini tersebar di tiga lokasi utama Taman Balekambang, yakni amfiteater, area bawah patung Partinah, dan Gedung Kesenian," kata Heru.

Lebih lanjut Heru menegaskan, ada yang spesial dalam even tahunan Fespin kali ini. Berbeda dengan even sebelumnya, agenda Fespin kali inii bakal lebih semarak karena jumlah peserta yang lebih banyak. Adapun festival tahun ini diikuti peserta dari hampir 40 kota di Indonesia serta delegasi dari mancanegara. Peserta terdiri atas 20 persen dari wilayah Solo Raya dan sisanya dari berbagai daerah di Indonesia serta perwakilan negara asing seperti Tiongkok, Korea Selatan, India, Jepang, dan Pakistan.

Masyarakat Kota Solo tak hanya dihibur dengan adanya pertunjukan kesenian semata. Menurut dia, Fespin 2026 juga memamerkan setidaknya 5.000 payung lebih, termasuk kreasi payung rajut, perca, dan sulam. Hanya saja, lanjutnya, para kreator dan komunitas tidak hanya memajang karya, tetapi juga terdapat workshop di berbagai zona yang tersebar di area taman.

"Konsep saya adalah memindahkan dapur kreatif mereka ke sini. Masyarakat kadang tidak hanya butuh melihat produk akhir, tetapi juga butuh melihat proses kerjanya. Jadi mereka bisa berapresiasi sekaligus ikut belajar membuat karya," terangnya.

Selain pameran payung, ada juga pameran lukisan tingkat internasional bertema "Ibu Bumi" di Gedung Kesenian. Heru mengatakan pameran ini menghadirkan karya delegasi India, Korea Selatan, Polandia, Mongolia, dan Indonesia, yang dikurasi langsung oleh kurator asal Korea Selatan.

Tahun ini, Fespin mengusung tema Catra Padi, Sepayung Dewi Sri yang menyoroti tradisi pertanian padi dan mitologi Ibu Bumi atau dewi kesuburan dari berbagai daerah di Nusantara hingga Asia. Heru beralasan pemilihan tema Catra Padi karena ingin menjadikan tradisi padi sebagai ruang perbincangan kebudayaan yang lebih luas.

"Kita mendiskusikan sejarah padi, beras organik, hingga mitologi Dewi Sri. Di tiap daerah, figur dewi kesuburan ini bermacam-macam, ada di Jawa, NTT, NTB, bahkan di Jepang dan India juga ada. Kaitannya sangat luas dengan kebudayaan," papar Heru


About gandrungsolo

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.